Rumah Sakit Akademis Jaury Jusuf Putra
Maret 11th, 2008 by putrajaury Pengakuan M Jusuf Kepada Jusuf Kalla:
Naskah Supersemar di Tangan Soeharto
Makassar, Sinar Harapan
Mantan Menhankam/ Pangab Jenderal (Purn) M Jusuf (76) pernah mengungkapan bahwa naskah asli surat perintah sebelas maret (supersemar) hingga kini berada di tangan mantan Presiden Soeharto. Pernyataan itu diungkapkan secara langsung oleh M Jusuf kepada Jusuf Kalla, calon wakil presiden (cawapres) dari Partai Demokrat, yang juga dekat dengan M. Jusuf, beberapa waktu lalu.
”Naskah asli Supersemar menurut almarhum Jenderal M Jusuf dalam suatu kesempatan kepada saya masih berada di tangan mantan Presiden Soeharto,” kata Kalla kepada wartawan ketika melayat di kediaman almarhum di Jl. Sungai Tangka No. 23, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (8/9) pagi.
Mengenai materi naskah Supersemar tersebut, menurut Kalla, Bung Karno sudah menyetujuinya. Namun apakah M Jusuf masih menyimpan foto kopi naskah Supersemar tersebut, Kalla tidak menjawab dan hanya tersenyum.
Berdasarkan informasi yang dihimpun SH, M Jusuf sebelum meninggal sudah menyelesaikan bukunya yang mengupas tuntas tentang Supersemar dalam bahasa/ tulisan Lontarak (bahasa/ tulisan tradisional Bugis-Makassar).
Buku tersebut belum dipublikasikan karena M Jusuf mengamanatkan agar buku itu boleh diketahui umum setelah ia meninggal dunia.
”Untuk mempublikasikan buku tersebut, beliau telah menunjuk orang kepercayaannya yang kini berstatus pejabat negara di pusat (Jakarta-red),” ungkap sumber SH yang enggan disebut jati dirinya itu.
Atmadji Sumarkidjo, Wakil Pemimpin Redaksi RCTI, yang tengah mempersiapkan buku tentang M Jusuf menyatakan almarhum pernah mengutarakan berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kenegaraan termasuk soal Supersemar.
Almarhum tidak menyimpan naskah asli Supersemar karena naskah asli sebanyak dua lembar itu diserahkan kepada Panglima Kostrad Mayjen TNI Soeharto. Almarhum sendiri hanya menyimpan rancangan atau notulen Supersemar yang penuh koreksian.
Notulen itu diketik Komandan Tjakrabirawa Brigjen Sabur dan isinya antara lain supaya Presiden Soekarno memberi kepercayaan kepada Mayjen TNI Soeharto untuk memulihkan keamanan, dan setelah melaksanakan tugas melaporkan kembali kepada Presiden Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Indonesia, kata Atmadji kepada SH di Makassar, Kamis (9/9) pagi.
Dalam naskah Supersemar asli itu, lanjut Atmadji, tidak ada kata-kata penyerahan kekuasaan. Keberadaan kata-kata itu ditolak oleh mereka yang hadir dalam membicarakan pembuatan naskah Supersemar, yakni Chaerul Saleh, Soebandrio, M.Jusuf, Amir Machmud, dan Basuki Rachmat.
Mengenai buku yang akan dibuatnya, Atmadji menyatakan isinya berdasarkan penuturan M Jusuf tentang perjalanan riwayat hidupnya, perkenalan dengan orang per orang dan lain-lain. Jadi ini merupakan semibiografi dan karena narasumber utama sudah meninggal, semuanya akan dikonsultasikan lagi dengan Ibu Elly M Jusuf (istri M Jusuf). Buku itu rencananya akan diterbitkan pada 11 Maret tahun depan.
Sementara Jusuf Kalla menambahkan, M Jusuf juga pernah merencanakan untuk mengumpulkan foto, dokumen, serta koleksi lainnya yang selanjutnya akan dibangun dalam sebuah museum pribadi. ”Saya berjanji kepada almarhum untuk mewujudkan niat membuat museum pribadi tersebut,” kata Kalla.
Sebagai kerabat dekat almarhum, Kalla juga pernah berniat untuk mendirikan Museum Mandala untuk M Jusuf, tetapi M Jusuf menolak karena tidak mau dikultuskan.
- Untuk mengenang almarhum, warga Makassar dan Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajuddin sepakat untuk mengubah nama Jalan Bulu Saraung yang selama ini menjadi lokasi Rumah Sakit Akademis Jaury Jusuf Putra yang dibangun oleh Jenderal M. Jusuf menjadi Jalan Jenderal M. Jusuf. Rumah Sakit Akademis Jaury Jusuf Putra dibangun M Jusuf untuk mengenang putra tunggalnya, Jaury Jusuf, yang meninggal pada usia enam tahun.
Panglima TNI Pimpin Pemakaman
Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dijadwalkan akan memimpin upacara pemakaman jenazah M Jusuf yang wafat di Makassar Rabu (8/9) sekitar pukul 21.35 Wita. Menurut Pendam VII/Wirabuana, upacara pemakaman akan berlangsung di pemakaman Islam Panaikang, dekat Taman Makam Pahlawan (TMP) Jl. Urip Sumohardjo Makassar usai shalat dzuhur.
Jenazah akan dilepas dari rumah duka di Jl. Sungai Tangka No.23 dengan upacara militer dipimpin Kepala Staf TNI AD Jenderal Ryamizard Ryacudu untuk kemudian dihantar ke Masdjid Al Markas Al Islami untuk disemayamkan dan dishalatkan.
Masjid terbesar di Kota Makassar ini dibangun atas inisiatif almarhum pada tahun 1995 bersama tokoh-tokoh Sulsel lainnya. Selanjutnya, jenazah dibawa ke tempat peristirahatan terakhir di Pemakaman Islam Panaikang.
Menyertai kunjungan Panglima TNI ke Makassar antara lain KSAD Jenderal Ryamizar Ryacudu, KSAU Marsekal TNI Chappy Hakim dan KSAL Laksamana Bernard Ken Sondakh.
Liang lahat untuk pemakaman M Jusuf berada di samping makam Thaufiq Jaury, putra tunggal M. Jusuf yang meninggal 31 Oktober 1960 dalam usia enam tahun. Andi Herry Iskandar, keponakan almarhum yang kini menjadi Wakil Wali Kota Makassar, mengemukakan pemakaman di pekuburan umum dekat makam Thaufiq Jauri Jusuf itu adalah sesuai permintaan almarhum.
Aco, salah seorang pekerja yang biasa dipanggil untuk membetulkan genteng di rumah Jenderal M. Jusuf, mengatakan biasanya almarhum setiap hari merenung sambil menulis di buku hariannya dengan menggunakan huruf lontar. (ani/isf)